Sabtu, 28 Juli 2018

Bekasi Punya Bahasa

Bekasi salah satu kota yang terdapat di Jawa Barat, yang belom tau sejarahnya Bekasi, nama Bekasi berasal dari kata Bagasasi yang artinya sama dengan Candrabhaga yang tertulis dalam Prasasti Tugu era Kerajaan Tarumanegara, yaitu nama sungai yang melewati kota ini. Kota ini bagian dari megapolitan Jabodetabek dan menjadi kota satelit dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Bukan cuman di Jakarta loh guys yang penduduknya Banyak, karna Saat ini Kota Bekasi berkembang menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri.  kota bekasi juga dijuluki sebagai Kota Patriot dan Kota Pejuang. Udah tau kan serah singkatnya? Tapi kalian udah tau belum, sebenernya bahasa khas Bekasi itu seperti apa sii? Nah, mimin jelasin lagi yaa. Seorang bijak pernah bilang bahwa “bahasa adalah cerminan sebuah bangsa”.

Makanya, enggak heran kalo melalui bahasa kita bisa menebak karakteristik sebuah bangsa. Ragam kosakata yang tergelincir dari mulut-mulut orang Bekasi ini tergolong unik. Banyak di antaranya enggak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Soalnya, bahasa yang sering dituturkan oleh orang-orang Bekasi terpengaruh oleh bahasa Sunda, tuturan Jawa Tengah, dan sedikit logat Betawi. Yuk kita sedikit belajar tentang kosakata di Bekasi.

Ribedh Bangedh
Pasti suka denger kan kata-kata “Et dah udah ribet…. jadi RIBEDH BANGEDH” hahaa, pasti kalian suka denger kalo orang bekasi mengucap kata yang berakhiran “t” diganti dengan gugus konsonan “dh”. misalnya sakidh lebih parah dibanding sakit. Contoh lainnya “orang yang pelidh pasti kuburannya sempidh”. Kalimat tersebut artinya, “orang yang pelit berlebihan, liang kuburnya pasti sangat kecil”. Haha lucu ya guys

Bae
Kalo kata yang ini pasti sering banget kalian ucap ya kan, mau orang sunda, jawa, pasti suka ngomong bae, asal kalian tau aja ya, kata bae itu kalo di Di Amerika, khususnya di pesisir West Coast, kata “bae” digunakan sebagai kata ganti “orang yang terkasih”. Ya, anak gaul di West Coast tuh nyebut bebeb-nya dengan sebutan “ma bae”. Sedangkan kalo di Bekasi, kata “bae” biasanya digunakan untuk mengganti kata “saja” atau “doang”. Contoh penggunaannya, “udah jangan ribedh, pilih gue bae!” gimana ada niatan buat manggil sang kekasih dengan sebutan bae?

Diantepin
Pernah gak ngerasa diacuhkan sama seseorang? Keberadaan lo enggak dianggap sama orang lain? Kalo di Bekasi, hal tersebut dikenal dengan istilah “diantepin”. Kata tersebut enggak cuma berlaku buat orang atau makhluk hidup, benda mati pun bisa “diantepin”. Misalnya dalam kalimat, “Udah gue sajiin kue kok diantepin bae.”

Awang
Pernah denger orang bekasi ngomong awang disaat sedang malas? Awang ah. Kata-kata ini mungkin suka bikin kita yang gak ngerti apa siii dengan muka yang serius.. karna memang benar kata orang Bekasi itu Planet yang kosakatana unik-unik, awang kata penggantinya males, kalo di kota males, dibekasi awang punya!!

Gak Danta
“lu gambar apa siii gak danta banget dah” percakapan singkat tadi biasanya orang bekasi ngomong sama yang sejenis. Kalo yang gak sejenis paling bengong doang dengernya, kaga danta itu diarti kan sebagai kata enggak jelas. Ati ati nih, yang udah tau artinya kalo orang betawi bilang gak danta tandanya kalian lagi gak jelas tuh…

Keduman
Yang anak bekasi mana ini?? Biasanya mimin kalo abis pulang dari pengajian mimin selalu ditanya gini sama emak “kedumen kaga neng beseknya?” gak ngerti kan?? Hehe,, mimin jelasin, kedumen itu artinya kebagiaan guys, udah tau kan sekarang

Goroh
Nih yan suka boong jangan sampe disindir sama orang Bekasi goroh trus kalian ngeiyain haha. goroh kalo di Bekasi itu artinya boong guys! “goroh mulu lu orangnya” hayu luh kalian mau jawab apa? bisanya kata-kata ini keluar ke orang yang gak bisa di percaya.. jadi kalo ada yang bilang goroh tandana kalian suka boong tuuh guys

Purik
sering banget kata-kata ini keluar dari sepasang kekasih.. orang bekasi kalo pacarnya lagi marah pasti dia bilang gini “purik mulu kamu mah” hayoo ngaku siang yang pacarnya purikan.. hehe wajar lah yaa, namanya juga pacaran! Purik artinya ngambek guys, jangan sampe kekasihnya ngelirik yang lain ya guys, gara-gara purika. hehehe

Ilok Ah
Biasanya anak bekasi kalo gak percaya suka ngomong “ilok ah neng?” bukan berarti kalian suka boong ya guys, kalau kalian cerita heboh pasti ada salah satu temen dari kalian bilang “ilok ah… trus trus bagimana lagi dah itu kok bisa begitu? ”. ilok ah sendiri memiliki makna yang artinya masa siih? Jadi kata ilok itu titik puncak kesirusan saat sedang cerita guys.. coba dengerin orang bekasi kalo lagi cerita heboh

Jember
Kata ini biasanya buat orang yang suka main jorok guys.. “jember gua mah kesono belok bangedh dah jalannya” hahaa.. lucu ya orang Bekasi kalo ngomong.. jember artinya jorok/jelek/jiji  guys, jadi kalo orang bekasi kalo udah ngomong jember pasti bibirnya dimainin deh..

Bader
Buat anak yang nakal, biasanya orang yang lebih dewasa akan ngomong seperti ii ke orang yang dibawah kita “et dahhh… bader bangedh dah tuh bocah” biasanya yang suka ngomong begitu kalangan emak-emak ya guys haha.. bader artinya itu bandel guys. Jadi siapa yang bader hayoo? hehe

Ini salah satu bahasa khasnya Bekasi guys, kalo daerah kamu, kaya gimana bahasanya??
(Firmansyah Mawero)

Jumat, 20 Juli 2018

Veteran Diasingkan 15 Tahun Di Nusa Kambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan SKisah veteran perang yang menghabiskan 15 tahun di Nusakambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan Serangan 4 Hari, pada 7-10 Agustus 1949.

Serangan ini menjadi penentu kemenangan Tentara Pelajar atas pasukan Belanda yang kemudian diabadikan di Monumen Juang ’45 di Banjarsari, Solo.

Hadi tergabung dalam Detasemen II Brigade 17 Tentara Pelajar yang bermarkas di Sragen pimpinan Mayor Achmadi, seorang pejuang muda berusia 21 tahun yang merencanakan penyerangan Kota Solo dari empat penjuru. Pengepungan dan kontak senjata selama 4 hari 4 malam itu berhasil merebut Kota Solo yang diduduki Belanda.

Saat berjuang di front Karanganyar, Hadi mengenal dan berteman dengan Letkol Soeharto – kelak menjadi Panglima Komando Strategi Angkatan Darat dan memimpin operasi pembersihan Partai Komunis Indonesia (PKI) periode 1965-1966.

Saat itu Soeharto juga menjadi pelatih Laskar Putri Indonesia (LPI) di mana Siti Hartinah – yang kemudian dipersuntingnya – ikut bergabung menjadi pejuang perempuan di dalamnya.

Difitnah, dituduh Komunis

Setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan RI melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag empat bulan sejak Serangan Umum 4 hari, Hadi ditawari untuk memilih melanjutkan sekolah atau bergabung menjadi tentara. Sejak 1950, dengan bekal lulusan SMP, ia memilih menjadi anggota Batalyon 609 Angkatan Darat dan ditugaskan di Banjarmasin hingga berpangkat Letnan Dua.

Empat tahun kemudian, Hadi keluar dari satuan karena ia memilih tugas sipil sebagai kepala penilik di Lapas Banjarmasin. Pada 1960, ia kemudian dipindahtugaskan ke Lapas Surakarta sebagai Kepala Bagian Reclasseering. 

Namun, karirnya hanya bertahan lima tahun. Di Lapas itu ternyata ada pegawai lain yang tak menyukainya dan sudah lama mengincar jabatan yang mengurusi pemulihan napi sebelum dibebaskan ke masyarakat itu.

“Saya difitnah, dilaporkan, dan dituduh komunis pada saat pecah Gestok,” kata Hadi.

Hadi ditangkap tentara saat tugas piket di kantor, kemudian dibawa ke kamp tahanan. Ia kaget saat diinterogasi karena namanya masuk dalam daftar B.

Sebagai pegawai negeri, Hadi tidak tahu menahu soal PKI dan kudeta. Ia pun tak terlibat dalam organisasi underbow partai berlambang palu arit itu – seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat, Persatuan Guru Republik Indonesia Non Vaksentral, Pemuda Rakyat, dan Barisan Tani Indonesia.  

Istrinya menjenguknya dan mengatakan bahwa suaminya bukan anggota atau simpatisan PKI. Ia juga membawa lencana bintang sebagai bukti bahwa Hadi adalah veteran pejuang dan juga pernah berdinas di AD.

“Seorang tentara malah menginjak-injak bintang saya dengan kakinya sambil berujar bahwa tidak mungkin komunis ikut berjuang,” kata Hadi.

Tak lama di kamp, Hadi dipindahkan ke Nusakambangan pada akhir 1965, menjadi tahanan politik (tapol) meninggalkan istri dan anak-anaknya. Di pulau itu, ia banyak bertemu dengan orang-orang yang senasib dengannya, orang-orang yang di-PKI-kan, yang ditahan tanpa tahu kesalahan mereka – korban fitnah. Mereka memiliki beragam profesi, mulai dari guru, tentara, pegawai, mahasiswa, petani, pedagang, hingga seniman.

Hadi juga baru tahu dan mengenal komunisme sejak dirinya bertemu dengan orang-orang penganut paham itu di Nusakambangan. Teman-temannya di Nusakambangan menyebutnya sebagai ideologi perjuangan kelas tertindas melawan imperialisme dan kapitalisme.

Pada tahun-tahun pertama, Hadi menyaksikan kehidupan yang sulit bagi para napi. Banyak tahanan yang meninggal akibat kelaparan. Jatah makan mereka hanya 6 gram beras setiap hari dan terkadang dengan ikan laut yang sudah busuk. Namun keadaan berangsur membaik setelah sebagian tahanan dipekerjakan untuk bercocok tanam dan membudidayakan ternak sebagai sumber pangan.

“Mereka yang petani dibebaskan, tetapi disuruh mengelola ladang dan ternak untuk memenuhi kebutuhan pangan petugas penjara dan tahanan,” kata Hadi.

Pertemanan dengan Soeharto tak abadi

Hadi lolos dari pengasingan massal dari Nusakambangan ke Pulau Buru. Karena memiliki latar belakang karir sebagai administrator di lapas, ia kemudian  dipekerjakan sebagai pembantu pegawai yang mengurusi delapan unit penjara. Pekerjaannya serabutan, mulai dari tukang ketik hingga mendistribusikan makanan untuk napi. 

Meskipun tidak tinggal di sel atau dibebani kerja paksa, Hadi tetap menganggap penahanannya sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Ia ditangkap dan dipenjara tanpa pengadilan. Masa depan dan kehidupannya direnggut, terpaksa menyandang stigma negatif eks-tahanan politik seumur hidup, dan menyandang dosa yang tak pernah ia lakukan.

“Kalau tidak berkali-kali dikunjungi dan didesak oleh aktivis HAM dunia, mungkin kami menjadi tahanan seumur hidup di Nusakambangan,” ujarnya.

Hadi keluar dari penjara pada 1980, pada saat pembebasan massal, setelah menghabiskan 15 tahun di penjara Nusakambangan. Ia kembali ke keluarganya di Solo, namun tidak bisa memperoleh pekerjaan yang layak karena statusnya sebagai eks-tapol.

Seperti yang lainnya, Kartu Tanda Penduduk (KTP) Hadi dibubuhi keterangan ET singkatan dari dari eks-tapol, sebelum akhirnya dihapus pada 2000-an. Selama Orde Baru berkuasa, Hadi selalu dimobilisasi pada saat pemilu.

“Eks-tapol digiring tentara, dikumpulkan, dan diwajibkan mencoblos Golkar,” katanya.

Hadi baru menyadari di kemudian hari bahwa ternyata persahabatan dengan Soeharto di medan perang kemerdekaan tidak abadi. Ketika sahabatnya berkuasa, Hadi malah menjadi pesakitan di Nusakambangan. Setelah bebas, ia masih dipaksa untuk melanggengkan penguasa.

Namun, Hadi sudah mengikhlaskan semuanya. Pada awal-awal Reformasi, ia pernah menuntut rehabilitasi dan kompensasi haknya yang terampas, tetapi tidak membuahkan hasil. Ia pasrah meskipun hidupnya susah.

Istrinya sudah meninggal, dan kini Hadi tinggal ditemani anak sulungnya di sebuah rumah berukuran 30 meter persegi. Jaminan kesehatan dari pemerintah untuk keluarga miskin pun ia tak punya. 

Beberapa waktu lalu Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memperjuangkan hak para korban ’65 agar didaftarkan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola BPJS. Namun, hingga sekarang Hadi belum terdaftar sebagai pemegang kartu layanan kesehatan yang ditanggung negara itu. 

“Tetapi saya sudah tak mau menuntut lagi. Saya bersyukur masih diberi umur panjang dan masih sehat, karena teman-teman seusia saya sudah banyak yang meninggal,” kata Hadi.

Sejak 1986, aktivitasnya hanya mengelola Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Banaran. Ia memperoleh penghasilan dari memulung sampah daur ulang, selain menjadi penjaga dan tukang bersih-bersih di toilet umum pemakaman di dekat rumahnya. 

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/143656-veteran-perang-15-tahun-penjara-nusakambangan

Veteran Diasingkan 15 Tahun Di Nusa Kambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan SKisah veteran perang yang menghabiskan 15 tahun di Nusakambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan Serangan 4 Hari, pada 7-10 Agustus 1949.

Serangan ini menjadi penentu kemenangan Tentara Pelajar atas pasukan Belanda yang kemudian diabadikan di Monumen Juang ’45 di Banjarsari, Solo.

Hadi tergabung dalam Detasemen II Brigade 17 Tentara Pelajar yang bermarkas di Sragen pimpinan Mayor Achmadi, seorang pejuang muda berusia 21 tahun yang merencanakan penyerangan Kota Solo dari empat penjuru. Pengepungan dan kontak senjata selama 4 hari 4 malam itu berhasil merebut Kota Solo yang diduduki Belanda.

Saat berjuang di front Karanganyar, Hadi mengenal dan berteman dengan Letkol Soeharto – kelak menjadi Panglima Komando Strategi Angkatan Darat dan memimpin operasi pembersihan Partai Komunis Indonesia (PKI) periode 1965-1966.

Saat itu Soeharto juga menjadi pelatih Laskar Putri Indonesia (LPI) di mana Siti Hartinah – yang kemudian dipersuntingnya – ikut bergabung menjadi pejuang perempuan di dalamnya.

Difitnah, dituduh Komunis

Setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan RI melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag empat bulan sejak Serangan Umum 4 hari, Hadi ditawari untuk memilih melanjutkan sekolah atau bergabung menjadi tentara. Sejak 1950, dengan bekal lulusan SMP, ia memilih menjadi anggota Batalyon 609 Angkatan Darat dan ditugaskan di Banjarmasin hingga berpangkat Letnan Dua.

Empat tahun kemudian, Hadi keluar dari satuan karena ia memilih tugas sipil sebagai kepala penilik di Lapas Banjarmasin. Pada 1960, ia kemudian dipindahtugaskan ke Lapas Surakarta sebagai Kepala Bagian Reclasseering. 

Namun, karirnya hanya bertahan lima tahun. Di Lapas itu ternyata ada pegawai lain yang tak menyukainya dan sudah lama mengincar jabatan yang mengurusi pemulihan napi sebelum dibebaskan ke masyarakat itu.

“Saya difitnah, dilaporkan, dan dituduh komunis pada saat pecah Gestok,” kata Hadi.

Hadi ditangkap tentara saat tugas piket di kantor, kemudian dibawa ke kamp tahanan. Ia kaget saat diinterogasi karena namanya masuk dalam daftar B.

Sebagai pegawai negeri, Hadi tidak tahu menahu soal PKI dan kudeta. Ia pun tak terlibat dalam organisasi underbow partai berlambang palu arit itu – seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat, Persatuan Guru Republik Indonesia Non Vaksentral, Pemuda Rakyat, dan Barisan Tani Indonesia.  

Istrinya menjenguknya dan mengatakan bahwa suaminya bukan anggota atau simpatisan PKI. Ia juga membawa lencana bintang sebagai bukti bahwa Hadi adalah veteran pejuang dan juga pernah berdinas di AD.

“Seorang tentara malah menginjak-injak bintang saya dengan kakinya sambil berujar bahwa tidak mungkin komunis ikut berjuang,” kata Hadi.

Tak lama di kamp, Hadi dipindahkan ke Nusakambangan pada akhir 1965, menjadi tahanan politik (tapol) meninggalkan istri dan anak-anaknya. Di pulau itu, ia banyak bertemu dengan orang-orang yang senasib dengannya, orang-orang yang di-PKI-kan, yang ditahan tanpa tahu kesalahan mereka – korban fitnah. Mereka memiliki beragam profesi, mulai dari guru, tentara, pegawai, mahasiswa, petani, pedagang, hingga seniman.

Hadi juga baru tahu dan mengenal komunisme sejak dirinya bertemu dengan orang-orang penganut paham itu di Nusakambangan. Teman-temannya di Nusakambangan menyebutnya sebagai ideologi perjuangan kelas tertindas melawan imperialisme dan kapitalisme.

Pada tahun-tahun pertama, Hadi menyaksikan kehidupan yang sulit bagi para napi. Banyak tahanan yang meninggal akibat kelaparan. Jatah makan mereka hanya 6 gram beras setiap hari dan terkadang dengan ikan laut yang sudah busuk. Namun keadaan berangsur membaik setelah sebagian tahanan dipekerjakan untuk bercocok tanam dan membudidayakan ternak sebagai sumber pangan.

“Mereka yang petani dibebaskan, tetapi disuruh mengelola ladang dan ternak untuk memenuhi kebutuhan pangan petugas penjara dan tahanan,” kata Hadi.

Pertemanan dengan Soeharto tak abadi

Hadi lolos dari pengasingan massal dari Nusakambangan ke Pulau Buru. Karena memiliki latar belakang karir sebagai administrator di lapas, ia kemudian  dipekerjakan sebagai pembantu pegawai yang mengurusi delapan unit penjara. Pekerjaannya serabutan, mulai dari tukang ketik hingga mendistribusikan makanan untuk napi. 

Meskipun tidak tinggal di sel atau dibebani kerja paksa, Hadi tetap menganggap penahanannya sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Ia ditangkap dan dipenjara tanpa pengadilan. Masa depan dan kehidupannya direnggut, terpaksa menyandang stigma negatif eks-tahanan politik seumur hidup, dan menyandang dosa yang tak pernah ia lakukan.

“Kalau tidak berkali-kali dikunjungi dan didesak oleh aktivis HAM dunia, mungkin kami menjadi tahanan seumur hidup di Nusakambangan,” ujarnya.

Hadi keluar dari penjara pada 1980, pada saat pembebasan massal, setelah menghabiskan 15 tahun di penjara Nusakambangan. Ia kembali ke keluarganya di Solo, namun tidak bisa memperoleh pekerjaan yang layak karena statusnya sebagai eks-tapol.

Seperti yang lainnya, Kartu Tanda Penduduk (KTP) Hadi dibubuhi keterangan ET singkatan dari dari eks-tapol, sebelum akhirnya dihapus pada 2000-an. Selama Orde Baru berkuasa, Hadi selalu dimobilisasi pada saat pemilu.

“Eks-tapol digiring tentara, dikumpulkan, dan diwajibkan mencoblos Golkar,” katanya.

Hadi baru menyadari di kemudian hari bahwa ternyata persahabatan dengan Soeharto di medan perang kemerdekaan tidak abadi. Ketika sahabatnya berkuasa, Hadi malah menjadi pesakitan di Nusakambangan. Setelah bebas, ia masih dipaksa untuk melanggengkan penguasa.

Namun, Hadi sudah mengikhlaskan semuanya. Pada awal-awal Reformasi, ia pernah menuntut rehabilitasi dan kompensasi haknya yang terampas, tetapi tidak membuahkan hasil. Ia pasrah meskipun hidupnya susah.

Istrinya sudah meninggal, dan kini Hadi tinggal ditemani anak sulungnya di sebuah rumah berukuran 30 meter persegi. Jaminan kesehatan dari pemerintah untuk keluarga miskin pun ia tak punya. 

Beberapa waktu lalu Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memperjuangkan hak para korban ’65 agar didaftarkan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola BPJS. Namun, hingga sekarang Hadi belum terdaftar sebagai pemegang kartu layanan kesehatan yang ditanggung negara itu. 

“Tetapi saya sudah tak mau menuntut lagi. Saya bersyukur masih diberi umur panjang dan masih sehat, karena teman-teman seusia saya sudah banyak yang meninggal,” kata Hadi.

Sejak 1986, aktivitasnya hanya mengelola Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Banaran. Ia memperoleh penghasilan dari memulung sampah daur ulang, selain menjadi penjaga dan tukang bersih-bersih di toilet umum pemakaman di dekat rumahnya. 

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/143656-veteran-perang-15-tahun-penjara-nusakambangan

Veteran Diasingkan 15 Tahun Di Nusa Kambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan SKisah veteran perang yang menghabiskan 15 tahun di Nusakambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan Serangan 4 Hari, pada 7-10 Agustus 1949.

Serangan ini menjadi penentu kemenangan Tentara Pelajar atas pasukan Belanda yang kemudian diabadikan di Monumen Juang ’45 di Banjarsari, Solo.

Hadi tergabung dalam Detasemen II Brigade 17 Tentara Pelajar yang bermarkas di Sragen pimpinan Mayor Achmadi, seorang pejuang muda berusia 21 tahun yang merencanakan penyerangan Kota Solo dari empat penjuru. Pengepungan dan kontak senjata selama 4 hari 4 malam itu berhasil merebut Kota Solo yang diduduki Belanda.

Saat berjuang di front Karanganyar, Hadi mengenal dan berteman dengan Letkol Soeharto – kelak menjadi Panglima Komando Strategi Angkatan Darat dan memimpin operasi pembersihan Partai Komunis Indonesia (PKI) periode 1965-1966.

Saat itu Soeharto juga menjadi pelatih Laskar Putri Indonesia (LPI) di mana Siti Hartinah – yang kemudian dipersuntingnya – ikut bergabung menjadi pejuang perempuan di dalamnya.

Difitnah, dituduh Komunis

Setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan RI melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag empat bulan sejak Serangan Umum 4 hari, Hadi ditawari untuk memilih melanjutkan sekolah atau bergabung menjadi tentara. Sejak 1950, dengan bekal lulusan SMP, ia memilih menjadi anggota Batalyon 609 Angkatan Darat dan ditugaskan di Banjarmasin hingga berpangkat Letnan Dua.

Empat tahun kemudian, Hadi keluar dari satuan karena ia memilih tugas sipil sebagai kepala penilik di Lapas Banjarmasin. Pada 1960, ia kemudian dipindahtugaskan ke Lapas Surakarta sebagai Kepala Bagian Reclasseering. 

Namun, karirnya hanya bertahan lima tahun. Di Lapas itu ternyata ada pegawai lain yang tak menyukainya dan sudah lama mengincar jabatan yang mengurusi pemulihan napi sebelum dibebaskan ke masyarakat itu.

“Saya difitnah, dilaporkan, dan dituduh komunis pada saat pecah Gestok,” kata Hadi.

Hadi ditangkap tentara saat tugas piket di kantor, kemudian dibawa ke kamp tahanan. Ia kaget saat diinterogasi karena namanya masuk dalam daftar B.

Sebagai pegawai negeri, Hadi tidak tahu menahu soal PKI dan kudeta. Ia pun tak terlibat dalam organisasi underbow partai berlambang palu arit itu – seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat, Persatuan Guru Republik Indonesia Non Vaksentral, Pemuda Rakyat, dan Barisan Tani Indonesia.  

Istrinya menjenguknya dan mengatakan bahwa suaminya bukan anggota atau simpatisan PKI. Ia juga membawa lencana bintang sebagai bukti bahwa Hadi adalah veteran pejuang dan juga pernah berdinas di AD.

“Seorang tentara malah menginjak-injak bintang saya dengan kakinya sambil berujar bahwa tidak mungkin komunis ikut berjuang,” kata Hadi.

Tak lama di kamp, Hadi dipindahkan ke Nusakambangan pada akhir 1965, menjadi tahanan politik (tapol) meninggalkan istri dan anak-anaknya. Di pulau itu, ia banyak bertemu dengan orang-orang yang senasib dengannya, orang-orang yang di-PKI-kan, yang ditahan tanpa tahu kesalahan mereka – korban fitnah. Mereka memiliki beragam profesi, mulai dari guru, tentara, pegawai, mahasiswa, petani, pedagang, hingga seniman.

Hadi juga baru tahu dan mengenal komunisme sejak dirinya bertemu dengan orang-orang penganut paham itu di Nusakambangan. Teman-temannya di Nusakambangan menyebutnya sebagai ideologi perjuangan kelas tertindas melawan imperialisme dan kapitalisme.

Pada tahun-tahun pertama, Hadi menyaksikan kehidupan yang sulit bagi para napi. Banyak tahanan yang meninggal akibat kelaparan. Jatah makan mereka hanya 6 gram beras setiap hari dan terkadang dengan ikan laut yang sudah busuk. Namun keadaan berangsur membaik setelah sebagian tahanan dipekerjakan untuk bercocok tanam dan membudidayakan ternak sebagai sumber pangan.

“Mereka yang petani dibebaskan, tetapi disuruh mengelola ladang dan ternak untuk memenuhi kebutuhan pangan petugas penjara dan tahanan,” kata Hadi.

Pertemanan dengan Soeharto tak abadi

Hadi lolos dari pengasingan massal dari Nusakambangan ke Pulau Buru. Karena memiliki latar belakang karir sebagai administrator di lapas, ia kemudian  dipekerjakan sebagai pembantu pegawai yang mengurusi delapan unit penjara. Pekerjaannya serabutan, mulai dari tukang ketik hingga mendistribusikan makanan untuk napi. 

Meskipun tidak tinggal di sel atau dibebani kerja paksa, Hadi tetap menganggap penahanannya sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Ia ditangkap dan dipenjara tanpa pengadilan. Masa depan dan kehidupannya direnggut, terpaksa menyandang stigma negatif eks-tahanan politik seumur hidup, dan menyandang dosa yang tak pernah ia lakukan.

“Kalau tidak berkali-kali dikunjungi dan didesak oleh aktivis HAM dunia, mungkin kami menjadi tahanan seumur hidup di Nusakambangan,” ujarnya.

Hadi keluar dari penjara pada 1980, pada saat pembebasan massal, setelah menghabiskan 15 tahun di penjara Nusakambangan. Ia kembali ke keluarganya di Solo, namun tidak bisa memperoleh pekerjaan yang layak karena statusnya sebagai eks-tapol.

Seperti yang lainnya, Kartu Tanda Penduduk (KTP) Hadi dibubuhi keterangan ET singkatan dari dari eks-tapol, sebelum akhirnya dihapus pada 2000-an. Selama Orde Baru berkuasa, Hadi selalu dimobilisasi pada saat pemilu.

“Eks-tapol digiring tentara, dikumpulkan, dan diwajibkan mencoblos Golkar,” katanya.

Hadi baru menyadari di kemudian hari bahwa ternyata persahabatan dengan Soeharto di medan perang kemerdekaan tidak abadi. Ketika sahabatnya berkuasa, Hadi malah menjadi pesakitan di Nusakambangan. Setelah bebas, ia masih dipaksa untuk melanggengkan penguasa.

Namun, Hadi sudah mengikhlaskan semuanya. Pada awal-awal Reformasi, ia pernah menuntut rehabilitasi dan kompensasi haknya yang terampas, tetapi tidak membuahkan hasil. Ia pasrah meskipun hidupnya susah.

Istrinya sudah meninggal, dan kini Hadi tinggal ditemani anak sulungnya di sebuah rumah berukuran 30 meter persegi. Jaminan kesehatan dari pemerintah untuk keluarga miskin pun ia tak punya. 

Beberapa waktu lalu Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memperjuangkan hak para korban ’65 agar didaftarkan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola BPJS. Namun, hingga sekarang Hadi belum terdaftar sebagai pemegang kartu layanan kesehatan yang ditanggung negara itu. 

“Tetapi saya sudah tak mau menuntut lagi. Saya bersyukur masih diberi umur panjang dan masih sehat, karena teman-teman seusia saya sudah banyak yang meninggal,” kata Hadi.

Sejak 1986, aktivitasnya hanya mengelola Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Banaran. Ia memperoleh penghasilan dari memulung sampah daur ulang, selain menjadi penjaga dan tukang bersih-bersih di toilet umum pemakaman di dekat rumahnya. 

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/143656-veteran-perang-15-tahun-penjara-nusakambangan

Veteran Diasingkan 15 Tahun Di Nusa Kambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan SKisah veteran perang yang menghabiskan 15 tahun di Nusakambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan Serangan 4 Hari, pada 7-10 Agustus 1949.

Serangan ini menjadi penentu kemenangan Tentara Pelajar atas pasukan Belanda yang kemudian diabadikan di Monumen Juang ’45 di Banjarsari, Solo.

Hadi tergabung dalam Detasemen II Brigade 17 Tentara Pelajar yang bermarkas di Sragen pimpinan Mayor Achmadi, seorang pejuang muda berusia 21 tahun yang merencanakan penyerangan Kota Solo dari empat penjuru. Pengepungan dan kontak senjata selama 4 hari 4 malam itu berhasil merebut Kota Solo yang diduduki Belanda.

Saat berjuang di front Karanganyar, Hadi mengenal dan berteman dengan Letkol Soeharto – kelak menjadi Panglima Komando Strategi Angkatan Darat dan memimpin operasi pembersihan Partai Komunis Indonesia (PKI) periode 1965-1966.

Saat itu Soeharto juga menjadi pelatih Laskar Putri Indonesia (LPI) di mana Siti Hartinah – yang kemudian dipersuntingnya – ikut bergabung menjadi pejuang perempuan di dalamnya.

Difitnah, dituduh Komunis

Setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan RI melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag empat bulan sejak Serangan Umum 4 hari, Hadi ditawari untuk memilih melanjutkan sekolah atau bergabung menjadi tentara. Sejak 1950, dengan bekal lulusan SMP, ia memilih menjadi anggota Batalyon 609 Angkatan Darat dan ditugaskan di Banjarmasin hingga berpangkat Letnan Dua.

Empat tahun kemudian, Hadi keluar dari satuan karena ia memilih tugas sipil sebagai kepala penilik di Lapas Banjarmasin. Pada 1960, ia kemudian dipindahtugaskan ke Lapas Surakarta sebagai Kepala Bagian Reclasseering. 

Namun, karirnya hanya bertahan lima tahun. Di Lapas itu ternyata ada pegawai lain yang tak menyukainya dan sudah lama mengincar jabatan yang mengurusi pemulihan napi sebelum dibebaskan ke masyarakat itu.

“Saya difitnah, dilaporkan, dan dituduh komunis pada saat pecah Gestok,” kata Hadi.

Hadi ditangkap tentara saat tugas piket di kantor, kemudian dibawa ke kamp tahanan. Ia kaget saat diinterogasi karena namanya masuk dalam daftar B.

Sebagai pegawai negeri, Hadi tidak tahu menahu soal PKI dan kudeta. Ia pun tak terlibat dalam organisasi underbow partai berlambang palu arit itu – seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat, Persatuan Guru Republik Indonesia Non Vaksentral, Pemuda Rakyat, dan Barisan Tani Indonesia.  

Istrinya menjenguknya dan mengatakan bahwa suaminya bukan anggota atau simpatisan PKI. Ia juga membawa lencana bintang sebagai bukti bahwa Hadi adalah veteran pejuang dan juga pernah berdinas di AD.

“Seorang tentara malah menginjak-injak bintang saya dengan kakinya sambil berujar bahwa tidak mungkin komunis ikut berjuang,” kata Hadi.

Tak lama di kamp, Hadi dipindahkan ke Nusakambangan pada akhir 1965, menjadi tahanan politik (tapol) meninggalkan istri dan anak-anaknya. Di pulau itu, ia banyak bertemu dengan orang-orang yang senasib dengannya, orang-orang yang di-PKI-kan, yang ditahan tanpa tahu kesalahan mereka – korban fitnah. Mereka memiliki beragam profesi, mulai dari guru, tentara, pegawai, mahasiswa, petani, pedagang, hingga seniman.

Hadi juga baru tahu dan mengenal komunisme sejak dirinya bertemu dengan orang-orang penganut paham itu di Nusakambangan. Teman-temannya di Nusakambangan menyebutnya sebagai ideologi perjuangan kelas tertindas melawan imperialisme dan kapitalisme.

Pada tahun-tahun pertama, Hadi menyaksikan kehidupan yang sulit bagi para napi. Banyak tahanan yang meninggal akibat kelaparan. Jatah makan mereka hanya 6 gram beras setiap hari dan terkadang dengan ikan laut yang sudah busuk. Namun keadaan berangsur membaik setelah sebagian tahanan dipekerjakan untuk bercocok tanam dan membudidayakan ternak sebagai sumber pangan.

“Mereka yang petani dibebaskan, tetapi disuruh mengelola ladang dan ternak untuk memenuhi kebutuhan pangan petugas penjara dan tahanan,” kata Hadi.

Pertemanan dengan Soeharto tak abadi

Hadi lolos dari pengasingan massal dari Nusakambangan ke Pulau Buru. Karena memiliki latar belakang karir sebagai administrator di lapas, ia kemudian  dipekerjakan sebagai pembantu pegawai yang mengurusi delapan unit penjara. Pekerjaannya serabutan, mulai dari tukang ketik hingga mendistribusikan makanan untuk napi. 

Meskipun tidak tinggal di sel atau dibebani kerja paksa, Hadi tetap menganggap penahanannya sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Ia ditangkap dan dipenjara tanpa pengadilan. Masa depan dan kehidupannya direnggut, terpaksa menyandang stigma negatif eks-tahanan politik seumur hidup, dan menyandang dosa yang tak pernah ia lakukan.

“Kalau tidak berkali-kali dikunjungi dan didesak oleh aktivis HAM dunia, mungkin kami menjadi tahanan seumur hidup di Nusakambangan,” ujarnya.

Hadi keluar dari penjara pada 1980, pada saat pembebasan massal, setelah menghabiskan 15 tahun di penjara Nusakambangan. Ia kembali ke keluarganya di Solo, namun tidak bisa memperoleh pekerjaan yang layak karena statusnya sebagai eks-tapol.

Seperti yang lainnya, Kartu Tanda Penduduk (KTP) Hadi dibubuhi keterangan ET singkatan dari dari eks-tapol, sebelum akhirnya dihapus pada 2000-an. Selama Orde Baru berkuasa, Hadi selalu dimobilisasi pada saat pemilu.

“Eks-tapol digiring tentara, dikumpulkan, dan diwajibkan mencoblos Golkar,” katanya.

Hadi baru menyadari di kemudian hari bahwa ternyata persahabatan dengan Soeharto di medan perang kemerdekaan tidak abadi. Ketika sahabatnya berkuasa, Hadi malah menjadi pesakitan di Nusakambangan. Setelah bebas, ia masih dipaksa untuk melanggengkan penguasa.

Namun, Hadi sudah mengikhlaskan semuanya. Pada awal-awal Reformasi, ia pernah menuntut rehabilitasi dan kompensasi haknya yang terampas, tetapi tidak membuahkan hasil. Ia pasrah meskipun hidupnya susah.

Istrinya sudah meninggal, dan kini Hadi tinggal ditemani anak sulungnya di sebuah rumah berukuran 30 meter persegi. Jaminan kesehatan dari pemerintah untuk keluarga miskin pun ia tak punya. 

Beberapa waktu lalu Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memperjuangkan hak para korban ’65 agar didaftarkan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola BPJS. Namun, hingga sekarang Hadi belum terdaftar sebagai pemegang kartu layanan kesehatan yang ditanggung negara itu. 

“Tetapi saya sudah tak mau menuntut lagi. Saya bersyukur masih diberi umur panjang dan masih sehat, karena teman-teman seusia saya sudah banyak yang meninggal,” kata Hadi.

Sejak 1986, aktivitasnya hanya mengelola Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Banaran. Ia memperoleh penghasilan dari memulung sampah daur ulang, selain menjadi penjaga dan tukang bersih-bersih di toilet umum pemakaman di dekat rumahnya. 

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/143656-veteran-perang-15-tahun-penjara-nusakambangan

Veteran Diasingkan 15 Tahun Di Nusa Kambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan SKisah veteran perang yang menghabiskan 15 tahun di Nusakambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya.

Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan.

Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah.

“Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu.

Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan peralatan dan amunisi. Satu regu terdiri dari 10-20 orang dan hanya dijatah 7 pucuk senapan laras panjang,revolver, dan granat. Ia dan kawan-kawannya harus memakai senjata bergantian.

Sejak angkat senjata, Hadi terlibat dalam banyak pertempuran di perkotaan maupun wilayah perbatasan, dari mulai Agresi Militer Belanda I dan II, sampai peristiwa paling bersejarah bagi Tentara Pelajar, yaitu Serangan Umum Surakarta atau dikenal dengan Serangan 4 Hari, pada 7-10 Agustus 1949.

Serangan ini menjadi penentu kemenangan Tentara Pelajar atas pasukan Belanda yang kemudian diabadikan di Monumen Juang ’45 di Banjarsari, Solo.

Hadi tergabung dalam Detasemen II Brigade 17 Tentara Pelajar yang bermarkas di Sragen pimpinan Mayor Achmadi, seorang pejuang muda berusia 21 tahun yang merencanakan penyerangan Kota Solo dari empat penjuru. Pengepungan dan kontak senjata selama 4 hari 4 malam itu berhasil merebut Kota Solo yang diduduki Belanda.

Saat berjuang di front Karanganyar, Hadi mengenal dan berteman dengan Letkol Soeharto – kelak menjadi Panglima Komando Strategi Angkatan Darat dan memimpin operasi pembersihan Partai Komunis Indonesia (PKI) periode 1965-1966.

Saat itu Soeharto juga menjadi pelatih Laskar Putri Indonesia (LPI) di mana Siti Hartinah – yang kemudian dipersuntingnya – ikut bergabung menjadi pejuang perempuan di dalamnya.

Difitnah, dituduh Komunis

Setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan RI melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag empat bulan sejak Serangan Umum 4 hari, Hadi ditawari untuk memilih melanjutkan sekolah atau bergabung menjadi tentara. Sejak 1950, dengan bekal lulusan SMP, ia memilih menjadi anggota Batalyon 609 Angkatan Darat dan ditugaskan di Banjarmasin hingga berpangkat Letnan Dua.

Empat tahun kemudian, Hadi keluar dari satuan karena ia memilih tugas sipil sebagai kepala penilik di Lapas Banjarmasin. Pada 1960, ia kemudian dipindahtugaskan ke Lapas Surakarta sebagai Kepala Bagian Reclasseering. 

Namun, karirnya hanya bertahan lima tahun. Di Lapas itu ternyata ada pegawai lain yang tak menyukainya dan sudah lama mengincar jabatan yang mengurusi pemulihan napi sebelum dibebaskan ke masyarakat itu.

“Saya difitnah, dilaporkan, dan dituduh komunis pada saat pecah Gestok,” kata Hadi.

Hadi ditangkap tentara saat tugas piket di kantor, kemudian dibawa ke kamp tahanan. Ia kaget saat diinterogasi karena namanya masuk dalam daftar B.

Sebagai pegawai negeri, Hadi tidak tahu menahu soal PKI dan kudeta. Ia pun tak terlibat dalam organisasi underbow partai berlambang palu arit itu – seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat, Persatuan Guru Republik Indonesia Non Vaksentral, Pemuda Rakyat, dan Barisan Tani Indonesia.  

Istrinya menjenguknya dan mengatakan bahwa suaminya bukan anggota atau simpatisan PKI. Ia juga membawa lencana bintang sebagai bukti bahwa Hadi adalah veteran pejuang dan juga pernah berdinas di AD.

“Seorang tentara malah menginjak-injak bintang saya dengan kakinya sambil berujar bahwa tidak mungkin komunis ikut berjuang,” kata Hadi.

Tak lama di kamp, Hadi dipindahkan ke Nusakambangan pada akhir 1965, menjadi tahanan politik (tapol) meninggalkan istri dan anak-anaknya. Di pulau itu, ia banyak bertemu dengan orang-orang yang senasib dengannya, orang-orang yang di-PKI-kan, yang ditahan tanpa tahu kesalahan mereka – korban fitnah. Mereka memiliki beragam profesi, mulai dari guru, tentara, pegawai, mahasiswa, petani, pedagang, hingga seniman.

Hadi juga baru tahu dan mengenal komunisme sejak dirinya bertemu dengan orang-orang penganut paham itu di Nusakambangan. Teman-temannya di Nusakambangan menyebutnya sebagai ideologi perjuangan kelas tertindas melawan imperialisme dan kapitalisme.

Pada tahun-tahun pertama, Hadi menyaksikan kehidupan yang sulit bagi para napi. Banyak tahanan yang meninggal akibat kelaparan. Jatah makan mereka hanya 6 gram beras setiap hari dan terkadang dengan ikan laut yang sudah busuk. Namun keadaan berangsur membaik setelah sebagian tahanan dipekerjakan untuk bercocok tanam dan membudidayakan ternak sebagai sumber pangan.

“Mereka yang petani dibebaskan, tetapi disuruh mengelola ladang dan ternak untuk memenuhi kebutuhan pangan petugas penjara dan tahanan,” kata Hadi.

Pertemanan dengan Soeharto tak abadi

Hadi lolos dari pengasingan massal dari Nusakambangan ke Pulau Buru. Karena memiliki latar belakang karir sebagai administrator di lapas, ia kemudian  dipekerjakan sebagai pembantu pegawai yang mengurusi delapan unit penjara. Pekerjaannya serabutan, mulai dari tukang ketik hingga mendistribusikan makanan untuk napi. 

Meskipun tidak tinggal di sel atau dibebani kerja paksa, Hadi tetap menganggap penahanannya sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Ia ditangkap dan dipenjara tanpa pengadilan. Masa depan dan kehidupannya direnggut, terpaksa menyandang stigma negatif eks-tahanan politik seumur hidup, dan menyandang dosa yang tak pernah ia lakukan.

“Kalau tidak berkali-kali dikunjungi dan didesak oleh aktivis HAM dunia, mungkin kami menjadi tahanan seumur hidup di Nusakambangan,” ujarnya.

Hadi keluar dari penjara pada 1980, pada saat pembebasan massal, setelah menghabiskan 15 tahun di penjara Nusakambangan. Ia kembali ke keluarganya di Solo, namun tidak bisa memperoleh pekerjaan yang layak karena statusnya sebagai eks-tapol.

Seperti yang lainnya, Kartu Tanda Penduduk (KTP) Hadi dibubuhi keterangan ET singkatan dari dari eks-tapol, sebelum akhirnya dihapus pada 2000-an. Selama Orde Baru berkuasa, Hadi selalu dimobilisasi pada saat pemilu.

“Eks-tapol digiring tentara, dikumpulkan, dan diwajibkan mencoblos Golkar,” katanya.

Hadi baru menyadari di kemudian hari bahwa ternyata persahabatan dengan Soeharto di medan perang kemerdekaan tidak abadi. Ketika sahabatnya berkuasa, Hadi malah menjadi pesakitan di Nusakambangan. Setelah bebas, ia masih dipaksa untuk melanggengkan penguasa.

Namun, Hadi sudah mengikhlaskan semuanya. Pada awal-awal Reformasi, ia pernah menuntut rehabilitasi dan kompensasi haknya yang terampas, tetapi tidak membuahkan hasil. Ia pasrah meskipun hidupnya susah.

Istrinya sudah meninggal, dan kini Hadi tinggal ditemani anak sulungnya di sebuah rumah berukuran 30 meter persegi. Jaminan kesehatan dari pemerintah untuk keluarga miskin pun ia tak punya. 

Beberapa waktu lalu Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memperjuangkan hak para korban ’65 agar didaftarkan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola BPJS. Namun, hingga sekarang Hadi belum terdaftar sebagai pemegang kartu layanan kesehatan yang ditanggung negara itu. 

“Tetapi saya sudah tak mau menuntut lagi. Saya bersyukur masih diberi umur panjang dan masih sehat, karena teman-teman seusia saya sudah banyak yang meninggal,” kata Hadi.

Sejak 1986, aktivitasnya hanya mengelola Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Banaran. Ia memperoleh penghasilan dari memulung sampah daur ulang, selain menjadi penjaga dan tukang bersih-bersih di toilet umum pemakaman di dekat rumahnya. 

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/143656-veteran-perang-15-tahun-penjara-nusakambangan

Senin, 16 Juli 2018

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Jasanya turut dirasakan semua orang Indonesia, tapi tak satu pun dari kita tahu namanya.

Sosok yang satu ini memang tidak banyak diketahui masyarakat luas. Namun jika melihat jasanya, tokoh bernama Winoto Danoeasmoro ini adalah termasuk orang kepercayaan dari Presiden Soekarno. Jasa lelaki kelahiran Purworejo saat menjadi sekretaris pribadi Ir. Soekarno tentu amatlah mendukung pencapaian berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tidak hanya sebagai sebagai sekertaris Ir. Soekarno, Winoto pun termasuk dalam pemuda yang terlibat membawa dua tokoh penting ke Rengasdengklok. Meski banyak perannya, nama Winoto tak banyak disorot sebab semasa hidup lelaki ini cukup jarang tampil di depan media dan jauh dari publikasi.

Peran Penting Winoto Di Masa Sebelum Kemerdekaan
Di antara peran penting Winoto adalah menjadi sekretaris pribadi Presiden Soekarno. Pria kelahiran 19 Oktober 1908 ini juga merupakan bagian dari tokoh pemuda yang turut serta dalam peristiwa Rengasdengklok. Perlu diketahui bahwa peristiwa penculikan yang dilakukan kaum muda terhadap Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk kemudian meminta percepatan proklamasi kemerdekaan tanah air. Karena peristiwa Rengasdengklok, pelaksanaan proklamasi dilakukan tanpa campur tangan organisasi buatan Jepang.

Dari Mulai Kepala Rumah Tangga Istana Negara Hingga DPR
Menurut salah seorang kerabat yang diketahui bernama Muhadi, Winoto sempat menjabat beberapa posisi penting. Di antaranya asisten pribadi Presiden Soekarno, kepala rumah tangga istana negara, hingga menjadi anggota DPR. Namun dari semua jabatan itu, yang paling membuat Winoto bangga adalah menjadi asisten sekaligus sekertaris pribadi Presiden Soekarno. Diceritakan saat menjadi asisten sang presiden, Winoto selalu diajak ke banyak tempat baik untuk tugas negara maupun di luar itu. Saat ke luar negeri pun, Winoto tak ketinggalan di bawa sang proklamator. Dan Presiden Soekarno yang gemar melakukan meditasi kerap mengajak Winoto bersamanya. Winoto pun dipercaya untuk mengasuh putra dan putri Bung Karno kala dirinya dan sang istri harus bertugas di luar rumah.

Pasca Pensiun Membangun Jalan Hingga Masjid
Setelah pensiun, laki-laki yang akrab disapa Mbah Winoto itu kembali ke kampung halamannya. Namun jangan dikira dirinya akan leha-leha menikmati masa tua, sebaliknya Winoto seakan menebus apa yang tak bisa dilakukannya semasa muda karena dirinya merantau di luar daerah. Di kampung halamannya, Mbah Winoto mulai membantu pembuatan jalan desa. Tak hanya itu, ia pun membangun masjid dengan dana dari kantong pribadinya sendiri.

Menolak Di Makamkan Di Taman Makam Pahlawan
Sejak di usia muda, Winoto memang dikenal sebagai pribadi yang amat sederhana. Dirinya tidak suka terhadap publikasi, dan yang lebih unik lelaki yang wafat pada 11 Juni 1985 ini berpesan bahwa tak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Alasannya terbilang nyeleneh yaitu tidak ingin dimakamkan bersama-sama bintang film. Memang tahun-tahun itu, banyak bintang film yang dimakamkan di taman makam pahlawan. Maka asisten pribadi Bung Karno tersebut ketika meninggal dunia dimakamkan di pemakaman Desa Banyuurip.

Dan makam Mbah Winoto bergabung dengan banyak nisan lainnya, cukup sulit ditemukan. Makam sederhana Mbah Winoto dengan nisan berwarna putih dengan lumut di beberapa bagian, nampak amat sederhana. Tulisan penanda makam yang bertuliskan “H Winoto Danu Asmoro” pun terlihat hanya samar-samar sebab mulai pudar.

Begitulah kisah perjalanan hidup dan jasa-jasa yang telah dilakukan Winoto. Cukup luar biasa bahkan sedikit banyak berpengaruh bagi bangsa lantaran beliau adalah sang asisten pribadi Putra Sang Fajar. Sayangnya, nama sosok sederhana itu kini seakan hilang ditelan jaman. Sepudar tulisan namanya di papan nisan yang mulai tak diperhatikan lagi.(Firmansyah Mawero)

Sabtu, 14 Juli 2018

Kaki-kaki Surga Menghentak Dunia

SEBA BADUY tahun ini kembali digelar dengan tema "EXCITING BANTEN On SEBA BADUY ", oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) bersama Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Banten. Dimulai dari proses penyambutan sampai pemulangan dari  21 - 22 April 2018.

Dan seperti biasa ribuan kaki surga, para penjaga keArifan Lokal Leluhur Nusantara, kembali memenuhi jalanan mulai dari Pandeglang, Lebak dan terakhir Ibukota Propinsi Banten, untuk mendatangi Bapak Gede (Gubernur Banten). 

Acara Seba 2108, kembali dilaksanakan di Alun-alun barat kota Serang, yang dimeriahkan beberapa artis ibukota seperti Budi Doremi, Dimulai dari Ritual penyambutan arak-arakan dari depan Museum Negeri Banten, dengan diiringi oleh hentakan Marching Band Gita Surosowan, Parade Arge boyz, Barongsai, Barisan Kang Banten dan Nong Banten, serta para rombongan Bikers Brotherhood Indonesia.

Ritual penyerahan hasil bumi dari masyarakat Baduy tersebut, juga dihadiri oleh Gubernur Banten, Wahidin Halim, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy, Bupati Pandeglang Irna Narulita, Pjs Bupati Lebak Ino S Rawita, serta berbagai OPD dan perwakilan dari Kementrian Pariwisata. Berbagai hasil bumi seperti Pisang, Sayuran dan Gula Merah, yang dibawa langsung warga adat Baduy dari Tanah Leluhurnya di Kanekes, sebagai pengakuan dari masyarakat adat Baduy.

Dan Upacara Seba tahun ini, masuk kategori terbesar, dengan jumlah diatas 2000 warga Baduy, selain itu acara ritual tahunan ini, sudah berlangsung selama 1 abad atau 100 tahun.

Disela-sela pembukaan acara pihak penyelenggara yang diwakili oleh ibu Eneng Nurcahyati Kepala Dispar Provinsi Banten, kembali mempromosikan wisata Banten kepada masyarakat yang hadir dan undangan yang hadir. Dan tak lupa pihak Disdikbud kembali menekankan kepada pelajar , dan generasi muda Banten, untuk lebih mengenal Budaya Baduy, yang sampai saat ini terus melestarikan nilai-nilai para Leluhur dan kebudayaan Baduy.

Gubernur Banten juga mengatakan, bahwa pemerintah Propinsi Banten menerima dengan senang hati, kedatangan masyarakat Baduy dalam agenda rutin tahunan Seba Baduy. Gubernur menekankan bahwa pemerintah tidak akan mengganggu hak-hak adat Baduy, yang sudah dijaga turun temurun. Katanya saat memberikan sambutan di Pendopo lama, kota Serang (21/4/2018)

" Filosofi Baduy yang Mendunia "
Gunung tak boleh DIHANCURKAN
Lembah tak boleh DIRUSAK
Larangan tak boleh DILANGGAR Pantangan tak boleh DIUBAH
Panjang tak boleh DIPOTONG
Pendek tak boleh DISAMBUNG
Yang bukan harus DITIADAKAN
Yang jangan harus DINAFIKAN
Yang benar harus DIBENARKAN

"SEBA BADUY 18 - 22 April 2018"
(Firmansyah Mawero)

Minggu, 08 Juli 2018

RAWA LUMBU : Pemilih Tertinggi Di Pilkada Kota Bekasi

Pilkada serempak 27 Juni sudah usai pada Pilwalkot Bekasi dan Pilgub Jabar, mulai dari pleno terbuka tingkat Kelurahan maupun Kecamatan telah dilaksanakan, dan kini pada hari Kamis (5/7/2018) malam akan dilaksanakan pleno terbuka KPUD Kota Bekasi.

Pada pilkada serempak tahun 2018 ini tingkat partisipasi dalam Pilkada Pilwalkot dan Pilgub Jawa Barat, di Kecamatan Rawalumbu Kota Bekasi, meningkat cukup signifikan dalam tingkat partisipasi pemilihnya. Sehingga dalam pleno PPK Kecamatan Rawalumbu dengan estimasi awal mencapai 72, 79 persen dan setelah pleno PPK mencapai 72, 22 persen.

Kecamatan Rawalumbu memiliki total jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 123.269 jiwa dengan suara Sah warga yang mencoblos sebanyak 90.285 jiwa.

Sekretaris Camat (Sekcam) Rawalumbu, Dra. Sulastri, M.Si, mengatakan, dalam Pilkada yang sebelumnya tingkat partisipasi pemilih hanya 49,6 persen. “Alhamdulillah, pilkada 2018 ini Kecamatan Rawalumbu telah melebihi target dengan tingkat partisipasi pemilih hingga 72 persen lebih,” ungkapnya.

Sulastri, mengungkapkan keberhasilan dalam partisipasi masyarakat di Kecamatan Rawalumbu dalam memilih di pilkada tahun ini tak lepas dari sosialisasi pilkada mulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan maupun Kecamatan itu sendiri.

“Sosialisasi pilkada ini juga dilakukan berbagai elemen masyarakat, baik itu Kader partai pendukung dan relawan kedua paslon. Pada intinya, jauh waktu kita selaku pihak pemerintahan tingkat kecamatan bersinegritas dengan KPUD secara masif melakukan sosialisasi,” terang Sulastri.

Selain itu, kecamatan rawalumbu bersama kelurahan juga melakukan pembinaan terhadap pegawainya untuk menyampaikan sosialisasi kepada warga, khusus warga yang sebelum hendak pulang kampung halaman di waktu Hari Raya Idul Fitri, yang masih di luar daerah Kota Bekasi atau di kampung halamannya. “Kita sampaikan ke warga agar nantinya segera lekas pulang karena nanti pilkada serempak pada 27 Juni untuk pelaksanaan Pilwalkot Bekasi dan Pilgub Jawa Barat, khususnya di Kecamatan Rawalumbu,” paparnya.

Lanjut, Sulastri menambahkan, menyikapi partisipasi masyarakat khususnya yang berada dilingkungan Perumahan Kemang Pratama Rawalumbu partisipasi masyarakatnya pada pilkada ini cukup meningkatkan. “Partisipasi pemilihnya mencapai 70 persen lebih,” ujarnya.

Melalui dirinya, Sulastri menghimbau, sedangkan untuk menghadapi pemilu legislatif dan Pilpres pada tahun 2019, masyarakat di ingatkan agar jangan golput dan gunakan hak pilihnya sesuai hati pilihannya untuk 5 tahun ke depan. “Pileg dan pilpres 2019 ada kemungkinan penambahan DPT, selain untuk pilpres pemilih dari domisili luar daerah dapat ikut menggunakan hak pilihnya di kota bekasi, juga diprediksi meningkatnya pemilih pemula,”.
(Firmansyah Mawero)

Jumat, 06 Juli 2018

Gunung Sampah Di Indonesia

Kunjungan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim ke Bali pada 5-6 Juli 2018 diharapkan dapat memperkuat komitmen pemerintah dengan partisipasi seluruh masyarakat Indonesia dalam memerangi sampah plastik.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (4/7/2018), mengatakan dirinya akan mendampingi Jim Yong Kim yang melakukan kunjungan ke Bali yang fokusnya akan diarahkan untuk membahas penanggulangan sampah plastik.

"Khusus untuk kunjungan Presiden Kim ke Bali pada hari Kamis dan Jumat, kami akan membahas apa saja, dan rencana kami untuk bisa mengurangi 70% sampah plastik pada tahun 2025 nanti," katanya.

Luhut mengaku Kim akan turut diundang untuk mengunjungi Balai Pengelolaan Hutan Mangrove dan melakukan diskusi "meja bundar" tentang sampah dan penanganannya dengan beberapa menteri, seperti Menteri Keuangan, Menteri Perumahan Rakyat dan Pekerjaan Umum, serta Menteri Desa.

"Sampah ini masalah serius, untuk menanganinya membutuhkan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan pemerintah sedang mempersiapkan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai penanganan sampah nasional. Jika sudah ada Perpres, kita akan ajukan anggaran untuk program ini dalam rancangan perubahan APBN 2018," jelasnya.

Bank Dunia sendiri saat ini akan menjalankan proyek Dana Perwalian Kemaritiman Indonesia (IndonesiaOceans Multi Donor Trust Fund) yang memberikan dukungan strategis terhadap seluruh agenda kelautan Indonesia.

Dukungan yang diberikan antara lain mendukung perbaikan terhadap perencanaan, koordinasi, kebijakan dan pendanaan strategi kelautan Indonesia.

Kedua, mendukung upaya pengurangan limbah plastik yang diwujudkan dalam Rencana Aksi Nasional Pengurangan Sampah Plastik. Kemudian ketiga, mendukung ketahanan daerah pesisir dan sumber daya laut.

Dana Perwalian ini dikelola oleh Bank Dunia, yang merupakan dana hibah dari Norwegia dan Denmark, masing-masing berjumlah US$1,4 juta dan US$875 ribu.

Dana ini bertujuan menciptakn sinergi dengan program sejenis lainnya di bawah Bank Dunia dan mitra pembangunan lainnya, termasuk dalam meningkatkan pengelolaan sampah di berbagai kota di Indonesia.

Selain itu badan ini juga menjalankan Proyek Pengelolaan Sampah Padat Bank Dunia (National Municipal Solid Waste Management Project) yaitu memberikan dukungan kepada Kementerian Perumahan Rakyat dan Pekerjaan Umum serta Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam melaksanakan program pengelolaan sampah senilai US$1,2 miliar yang sebagian besar akan didanai oleh pemerintah pusat dan daerah.

Program itu diharapkan dapat menarik investasi pihak swasta senilai US$1,5 miliar. Selama program berlangsung selama enam tahun, diharapkan sekitar 30 kota di Indonesia dapat mencapai sistem pemungutan, pengelolaan dan pembuangan sampah yang lebih baik, dan secara keseluruhan dapat mengurangi jumlah sampah yang mengalir ke laut, khususnya sampah plastik.

Sebagai pucuk pimpinan Bank Dunia, Kim juga dijadwalkan untuk berkunjung ke Kompleks Garuda Wisnu Kencana di Jimbaran, sebagai bagian dari persiapan perhelatan akbar Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia yang akan digelar di Bali, Oktober mendatang.
(Firmansyah Mawero)

Minggu, 01 Juli 2018

Milenial Era Kekinian

Di era milenial seperti saat ini dimana perkembangan jaman makin pesat berkata adanya jaringan internet yang membuat beragam informasi sangat mudah di dapatkan di internet ataupun media sosial. Bahkan kini bermunculan kata-kata gaul yang sering diucapkan oleh netizen di media sosial. Biar kamu gak dibilang kudet, berikut ini arti dari 5 kata gaul yang sering diucapkan oleh netizen.

1. Sultan
Kata Sultan sering diucapkan oleh para netizen saat mengomentari atau menanggapi seseorang yang memiliki kehidupan mewah ataupun sok mewah. Biasanya para netizen menjuluki mereka sbagai sultan karena memiliki barang-barang branded seperti smartphone, mobil, motor maupun barang-barang mewah lainnya.

2. Faedah
Kata faedah sebenarnya meruapakan kata yang biasa diucapkan dalam ceramah agama Islam. Namun berkat kreativitas 'kids jaman now' kata faedah malah kerap digunakan dakam kehidupan sehari-hari. Kata 'faedah' sendiri bisa diartikan sebagai manfaat, bahkan kini muncul juga kata 'unfaedah' yang bisa diartikan sebagai tidak bermanfaat.

3. Mantab Soul
Mantap soul atau mantap jiwa biasanya digunakan oleh para netizen untuk menggambarkan sesuatu atau kejadian yang luar biasa. Sebenarnya kata mantap soul atau mantap jiwa tidak memiliki arti khusus hanya saja penambahan kata soul atau jiwa dibelakang kata mantap semakin mempertegas kehebatan sesuatu/orang/kejadian.

4. HQQ
Kata 'hakiki' memiliki arti benar atau sesungguhnya. Kalimat hakiki biasanya diucapakan oleh para netizen untuk mengungkapkan kenikmatan atau kepuasan dalam konteks yang beragam. Contohnya adalah penggunakan dalam kalimat 'kebahagiaan hakiki' yang menggambarkan tentang kebahagian yang luar biasa.

5. Terciduk
Para netizen Indonesia memang sangat kreatif, terbukti mereka berhasil meyerap kata yang biasa digunakan dalam berita penangkapan seseorang oleh pihak kepolisian. Terciduk sendiri berarti tertangkap sehingga para netizen kerap mengganti kata tertangkap menjadi terciduk. Contohnya saja pada kalimat pencuri ditangkap oleh polisi yang diplesetkan menjadi pencuri terciduk oleh polisi.
(FM)